|
Mengenang Hajah Rangkayo Syamsiar binti Tasir
Rangkayo Hajah Aisyah Samik Ibrahim Nurjan M. Abd. Razak Samik Ibrahim |
|
|
WHAT's NEW |
HOME |
vv BOTTOM vv |
NEXT>>>
<<<PREV | ^^TOP^^ | NEXT>>> |
Profil Pendamping AktifisAda bunga di Amping Parak. Dianya berkulit putih, sedikit gemuk, rambut ikal yang dijalin dua ke arah depan, berhidung mancung dan punya Mami yang judes serta Papi yang sangat menyayanginya. Mungkin karena sadar bahwa dia berkulit terang, maka busana yang dikenakannya seringkali berwarna terang, seperti kuning, biru dan merah; dan pakaian yang sangat disukainya adalah baju merah kacut di pinggang. Kecil-kecil dia sudah jadi manten, dan tidak beberapa saat pernikahannya bubar. Sampai suatu saat bertemu dengan seorang duda yang berprofesi guru. Si duda ini, selain menjalankan tugas rutin juga punya kerja sampingan, yakni pacaran dengan bunga Amping Parak itu, serta aktifis menentang kolonial Belanda. Mereka kemudian menikah, dengan dialektika dan dinamika kehidupan yang turun naik. Dia membesarkan anak-anaknya sambil mengurus sang aktifis yang hobinya keluar masuk penjara. Sekarang dia telah wafat, namun dari rahimnya lahir doktor, hakim agung, insinyur, ahli ekonomi, ahli kimia, serta cucu dan cicit yang pintar-pintar. Perempuan di desa kecil pesisir selatan itu, bernama... Amai! (manpred) |
| <<<PREV | ^^TOP^^ | NEXT>>> |
Beberapa catatan tambahan perihal Amai:
(van dollen)
|
| <<<PREV | ^^TOP^^ | NEXT>>> |
|
Van Dollen pernah ke pasar Jawa dengan Amai untuk membeli sayur.
Kata Ayah, pakai mobil saja dengan sopir.
Namun Amai bilang, pakai bendi saja -- biar santai.
Sesampainya di depan Balaikota tiba-tiba kudanya hilang kendali,
men-dongkak-dongkak tidak terkendali.
Bendi maju terus ke Toko Mas Banjar, kemudian kusirnya loncat
ke punggung kuda. Kudanya tambah terkejut, membuat orang-orang
di pinggir ketakutan.
Van Dollen menangis karena sangat takut.
Maka beramai-ramai orang menangkap kuda tersebut.
Akhirnya kuda itu terjatuh lalu diikat orang banyak.
Dan kami juga terjatuh diungsikan ke dalam pom bensin disimpang jalan.
Badan van Dollen dan Amai tergores-gores, namun
masih dapat belanja sayur dan ikan.
Kami pulang tapi Amai diam aja.
Dilihat Ayah badan van dollen dibarut obat merah dan bergores2.
Van Dollen bilang jatuh dari bendi.
Mako ayah bilang itulah ndak mandanga kato den disuruh jo oto ingin
nyo jo bendi. Itulah akibatnyo!
(van dollen)
|
| <<<PREV | ^^TOP^^ | NEXT>>> |
|
Menjelang beliau kembali ke haribaan Allah, Amai agak
sering sakit. Waktu tinggal di Kebon Kacang, beliau
jalan ke rumah dokter di ujung gang kami sendirian karena
semuanya sudah berangkat ke kantor. Setelah kami pulang
sudah ada obat ternyata dokter memberi obat jadi ngak
perlu lagi ke apotik. Waktu kami udah sampai di rumah
ada pula makanan yang enak. Maka kami makan
bersama. Kata Amai, aden alah cegak makan ubek dari dokter itu.
Manga amai mamasak pulo? Bia badan den ado keringat dan menjadi segar.
Bilo amai balanjo, wakatu den duduk lalu tukang sayur,
maka den bali dan den masak. Onde mande lamak bana samba Amai awak ko.
(van dollen)
|
| <<<PREV | ^^TOP^^ | NEXT>>> |
|
Sebelum bulan Maret ini berakhir, tidak lupa kita akan
tanggal 3 Maret 1987 di mana Amai kita yang tercinta
(Hj. Rangkayo Syamsiar binti Tasir)
meninggalkan kita selama-lamanya.
Kami waktu itu terjaga dari tidur di Lebak Bulus karena kedatangan Rizal dan Lilin Umar Samik yang memberi tahu bahwa Amai sakit dan diminta pulang dengan pesawat pertama. Kami terkesimak mengingat Ida baru pulang dari melihat Amai yang sakit dan dia kembali ke Jakarta karena Amai sudah berangsur baik. Kami belum memasang telepon sebab belum ada salurannya ke Lebak Bulus. Jadi kalau menghubungi Palinggam menggunakan telepon kantor/waktu di kantor. Kami berangkat subuh ke bandara dengan diantarkan oleh tetangga. Kami belum punya mobil sebab mobil butut hanya ada di Bandung. Si Onang diam seribu basa sebab dia udah paham apa yang terjadi, senangkan One masih punya harapan Amai sedang sakit. Di Bandara ternyata pesawat belum berangkat walau pun penumpang sudah semua dipesawat. Ternyata dari hanggar diminta tunda sebab ada yang mau ikut karena orang-tuanya meninggal. Tidak lama muncullah abang dan uni dengan kaki uni yang berlumur darah. Ternyata buru-buru, kaki uni terjepit escalator. Tidak lama kemudian kita mendarat dengan Bahrul di depan hanggar dengan kopiah hitam menyambut kami dengan anak buah yang akan mengurus bagasi. Barulah si One sadar apa yang terjadi. Kami sampai di Palinggam, orang banyak di halaman dengan tenda di depan rumah. Kami lihat Amai yang terbaring tenang ditempat tidur dan dibacakan Al-Fatihah serta doa sebab arwah Amai masih ada disisi tubuh beliau. Kita ucapkan doa dan uneg-uneg di hati dan meminta Amai agar jalan dengan tenang sebab kita semua pada waktunya akan menyusul. Di waktu kami udah kembali ke Jakarta, besoknya langsung masuk kantor. Dan di ruang kerja dikumpulkan teman-teman semua oleh kepala bagian lalu dipanggil Deputi Direktur untuk memberikan sambutan duka, sedangkan Direktur sendiri lagi rapat dan dia secara pribadi dan dinas udah menyampaikan telegram duka cita melalui Bank Indonesia Padang. Dibacakan doa buat Almarhumah dan anak-anak, serta teman-teman ber-iuran memberikan amplop duka cita. Hati kami senang mendengarkannya. Kesan yang mendalam dari Papie van Dollen terhadap Amai adalah Amai hadir waktu kami syukuran sesudah nikah. Karena mandiri uang terbatas dan tidak berkecukupan maklum aja rumah lebak bulus baru jadi maka syukurannya tiga bulan berikutnya. Juga tempat syukuran biasa saja di Sekopol, bukan di Mesjid yg megah seperti Ida dan Uni. Hadiah yg paling dibanggakan adalah hadirnya Amai kami serta doa restu beliau. Sedangkan waktu syukuran Ida dan Uni Amai kita udah meninggal. Amai kita yang mulia. Beliau membesarkan kita dgn kasih sayang dan harapan yang besar. Ingat setelah si One selesai SMP, ingin jadi bidan atau perawat. Maka melamar ke R.S. Jati tapi syaratnya harus ada izin orang tua, ternyata Amai tidak mengizinkan. Lebih baik sekolah SMA yang kalau mau ke-mana-mana bisa. Kemudian si One tidak putus asa walau pun si One orangnya kurang pintar, dan melamar lagi ke SGKP. Waktu itu SGKP sekolah elit sebab mahal biayanya dan orang yang sekolah disana cantik-cantik. Eh, si One diterima sedangkan masuk ke sana susah. Si One membawa daftar barang-barang yang harus dilengkapi kalau mau jadi murid SGKP. Ternyata Amai juga tetaap tidak setuju dengan alasan untuk bisa jahit ikut kursuslah atau buat kue dan masak kursus saja. Tidak usak sekolah SGKP. Amai ingin tetap agar di SMA saja. Aduh bukan main Amai kita ini seorang wanita kampung dan tidak tinggi pendidikan tapi berpikir yang jauh ke depan untuk masa depan anak-anaknya. Maka tetaplah si One ke SMA II yang numpang di gedung SMA I. Kami sekolah sore sampai gedungnya selesai di Ulak Karang. Rasanya banyak sekali yang akan diungkapkan dalam mengenang Amai tercinta ini. Tapi menunggu yang lain kalau ada pula ingatan mereka kepada Amai kita ini. (van dollen)
|
| <<<PREV | ^^TOP^^ | NEXT>>> |
| Catatan: lihat juga Riwayat H. Samik-Ibrahim. |
| <<<PREV | ^^TOP^^ |
| Copyright © 2004-2009 Rahmat M. Samik-Ibrahim . Provided AS-IS with no LIABILITY. Permission is granted to copy, distribute, and/or modify this webpage provided this notice is preserved. MIRRORS of this site: BisnisWeb - PadiNET - Fusilkom-UI. File revision: 9.6 2004/12/27 04:58:19 -- E-CONTACT. Special thanks for this webspace provider. |
|